Selamat Datang di pandudharma.blogspot.com Selamat menikmati Cerita, Kisah, Ilmu, dan Kegiatan yang saya rangkum menjadi sebuat Blogger karya anak SMP yang baru saja SMA. Semoga Blog ini berguna bagi anda para pembaca. Terimakasih Atas Kunjunganya :)
PaDarWin ialah singkatan dari Pandu Dharma Wicaksono. Pandu ialah pria kelahiran Balikpapan, 22 Agustus 1996, mengawali pendidikan di TK Flamboyan Kecamatan Satui Kalimantan Selatan, TK Pelita Prapatan Balikpapan Selatan, Kelas 1 dan 2 di SD Negeri 002 Balikpapan Selatan, Kelas 3 s.d. 5 di SD Kartika V-3 Balikpapan Utara, Kelas 6 di SD Negeri 002 Balikpapan Utara, Lulus dan Melanjutkan di RSBI SMP Negeri 3 Balikpapan, Lulus pada tahun 2008 Menerima Beasiswa Penuh Pendidikan di SMA Negeri 10 Melati Samarinda, Semester 1 Pindah ke SMA Negeri 1 Balikpapan sampai sekarang dan berkeingin Kuliah di Jurusan Managemen Lingkungan Hidup dan bercita-cita menjadi Walikota Balikpapan dan Mentri Lingkungan Hidup.

Rabu, 14 Desember 2011

Posted by Pandu Padarwin On 6:01:00 AM

There is still dugong in Balikpapan Bay

Dugong is one of the most endangered marine animals in Indonesia. Although often called a sea cow. The animal was not a fish. Similar to dolphins Dugongs including mammal, which breathe air and suckle her child parent. But this animal is not the kind a dolphins. Anatomy more like an elephant. Unlike dolphins Dugongs do not eat fish. This is the type of herbivorous animals, which eat seaweed in sea grass beds
   Dugong can be found from Madagascar and East Africa through India to Australia. It is not known how many dugongs still Survives in Indonesia. It may be between 1000 and 10000 animals. But it is sure that the number declined drastically over past few years. In Borneo, only know from five Location: The bay of Balikpapan, Kotawaringin, Gulf islands Kumai and Derawan In 1996 it was proposed that the dugong is already extinct in Kalimantan. But four years later, in 2000, rediscovered by RASI Foundation (rare aquatic species of Indonesia) in Balikpapan bay, which still can be seen up to now.
   Currently dugongs in the bay of Balikpapan in threatened condition. The main threat is the loss of sea grass. sea grass disappeared due to sedimentation and chemical pollution. The two main sources of sedimentation are industrial development and oil palm plantations. The most significant are probably plantations of PT Agro Indomas, kelurahan Pemaluan a Sepaku. They have planted huge areas of coast and riverbanks with palm oil, although according to legislation it is illegal to plant palms within a buffer zone along coast and riverbanks. After this happened, water in Pemaluan and Sepaku Rivers changed its colour from greenish-brown to yellow, which can be seen even from satellite images. Palm oil plantations and HTI Acacia (such ad the TP IHM) are also source of huge amounts of herbicides, which poison the water not only for humans and animals, but also for sea grass, which is so important for dugongs.
   Another source of sediment and chemical pollutants is industrial development, especially along the coast of Kariangau. Mercury from the industrial waste accumulates not only in fish, which are being eaten by people, but also in sea grass, which is being eaten by dugong. There have been even two CPO (crude palm oil) factories, which are now being constructed outside the Kariangau industrial area, in protected areas (PT DKI) and in mangrove areas (PT MBA). With construction of these two factories in the natural area, Balikpapan has no more any healthy coast left. To make the disaster even bigger, many coal mines are being opened along whole Balikpapan Bay in the kabupaten PPU. The biggest ones, such as PT Sing Lurus Pratama, are located very close to the dugong habitat, and represent a very significant source of pollutants.
   Dugongs are also threatened by boat traffic. Oil disposal, painting the ship and cleaning boats when in a port, a source pollutant that can kill the sea grass and dugongs can cause poisoning. Boat engine noises disturb dugongs in place for food and took them to areas further afield. Areas where dugongs were frequently seen is Tempadung estuary, away from industrial area Karingau. But with the Construction of factory CPO by the PT DKI, the dugongs will be forced to leave even this food source is there. This dugongs was no longer a food source more than area.
   But the biggest threat for the dugong is the plan to build Balang Island Bridge and connecting road along most of the Balikpapan Bay, which will cause massive encroachment and resulting deforestation and ecosystem degradation, threatening ecological integrity of the whole Balikpapan Bay.


Duyung masih hidup di Teluk Balikpapan

Duyung (Dugong dugon) adalah salah satu hewan laut yang paling langka di Indonesia. Walaupun sering disebut ikan duyung, hewan ini bukan ikan. Serupa dengan lumba-lumba, duyung termasuk mamalia, yang bernafas di udara dan induk menyusui anaknya. Tapi binatang ini bukan sejenis lumba-lumba. Anatomi, duyung lebih mirip dengan gajah. Berbeda dengan lumba-lumba, duyung tidak memakan ikan. Binatang ini adalah jenis herbivora, yang memakan rumput laut di padang lamun.
   Duyung dapat ditemukan dari Madagaskar dan Afrika Timur melalui India sampai ke Australia. Tidak diketahui berapa banyak duyung masih bertahan di Indonesia. Ini mungkin antara 1.000 sampai dengan 10.000 ekor. Tapi yakin bahwa jumlahnya menurun drastis selama beberapa tahun terakhir. Di Kalimatan, hanya diketahui dari lima lokasi: Teluk Balikpapan, Kotawaringin, Pulau Karimata, Teluk Kumai dan Kepulauan Derawan. Pada tahun 1996 telah diusulkan bahwa dugong telah punah di Kalimantan. Tapi empat tahun kemudian, pada tahun 2000, ditemukan kembali oleh Yayasan RASI (Rare Aquatic Species Indonesia) di Teluk Balikpapan, di mana masih dapat dilihat sampai sekarang.
   Saat ini duyung di Teluk Balikpapan dalam kondisi terancam. Ancaman utama adalah hilangnya padang lamun, yang merupakan pakan utama duyung. Lamun menghilang karena sedimentasi dan polusi kimia. Salah satu sumbernya adalah perkebunan sawit, misalnya perkebunan PT Agro Indomas di Kelurahan Pemaluan dan Sepaku (kabupaten PPU). Perusahan ini telah menanam sawit di sepanjang pesisir dan tepian sungai dan anak sungai, meskipun oleh hukum itu adalah ilegal untuk menanam sawit di zona penyangga di sepanjang pantai dan tepi sungai. Setelah pembukaan pinggiran sungai terjadi, kondisi air di Sungai Sepaku dan Pemaluan berubah warna dari coklat kehijauan menjadi kuning, hal yang dapat dilihat bahkan dari citra satelit! Perkabunan sawit dan HTI kayu akasia (misalnya, oleh PT ITCI Hutani Manunggal di Ulu Sungai Pemaluan dan Sepaku) juga merupakan sumber limbah herbisida yang meracuni air tidak hanya untuk manusia, tetapi juga untuk padang lamun, yang begitu penting bagi duyung.
   Salah satu sumber sedimen dan polutan kimia adalah pengembangan industri, khususnya di sepanjang pesisir Kariangau yang dialokasikan untuk kawasan industri. Merkuri dari limbah industri tidak hanya menumpuk di ikan yang dimakan oleh masyarakat, tetapi juga di rumput laut, yang dimakan oleh dugong tersebut. Bahkan ada dua pabrik CPO (crude palm oil) sedang dibangun di luar Kawasan Industri Kariangau, di kawasan lindung (PT Dermaga Kencana Indonesia) dan di kawasan mangorve (PT Mekar Bumi Andalas). Dengan pembangunan dua perusahan ini di daerah yang sampai saat ini masih alami, Balikpapan tidak lagi memiliki pesisir yang sehat. Dan bencana ini lebih besar lagi, karena ada banyak tambang batubara yang dibuka di sepanjang Teluk Balikpapan khususnya di kabupaten Penajam paser Utara (PPU). Perusahaan besar seperti PT Sing-Lurus Pratama terletak sangat dekat dengan habitat duyung, dan merupakan sumber polutan yang sangat signifikan.
   Duyung juga terancam oleh lalu lintas kapal. Pembuangan oli, pengecatan kapal,  dan pembersihan kapal ketika berada di pelabuhan, merupakan sumber polutan yang membunuh rumput laut dan bisa dapat menyebabkan keracunan pada duyung. Kebisingan mesin kapal mengganggu duyung di tempat mencari makanan dan mengantar mereka ke daerah-daerah yang lebih jauh. Daerah di mana duyung masih sering terlihat adalah Muara Sungai Tempadung, jauh dari Kawasan Industri Kariangau. Tetapi dengan pembangunan pabrik CPO oleh PT Dermaga Kencana Indonesia, duyung akan dipaksa kembali untuk meninggalkan sumber makanan yang berada di sana. Sedang duyung ini tidak lagi memiliki sumber makanan lagi selain kawasan tersebut.
   Tapi ancaman terbesar bagi dugong adalah rencana membangun Jembatan Pulau Balang dan jalan penghubung sepanjang sebagian besar pesisir Teluk Balikpapan. Pembangunan ini akan menyebabkan perambahan besar-besaran dan mengakibatkan deforestasi dan degradasi ekosistem, sampai mengancam integritas ekologi seluruh Teluk Balikpapan, bukan hanya habitat duyung.

0 komentar:

Poskan Komentar

"Love The Earth Save The Energy"